Rabu, 21 Maret 2012

Break Event Point

PENGERTIAN
Break Even point atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan / profit.
Ada 2 alasan mengapa para pelaku bisnis menerima alasan ini :
1.       Analisis ini berdasarkan pada asumsi yang lugas
2.      Perusahaan-perusahaan telah menemukan bahwa informasi yang didapat dari metode titik impas ini sangat menguntungkan di dalam pengambilan keputusan.

Manfaat Break Event Point  

-      Alat perencanaan untuk hasilkan laba

-      Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.

-      Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan
Mengganti system laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti


Metode Break Event Point :
        a.       Pendekatan Grafik 
Break Event Point terjadi pada titik persilangan antara garis pengahasilan penjualan dan garis total biaya.
        b.      Metode Trial and Erorr
        c.       Pendekatan Matematis
Faktor-faktor yang mempengaruhi BEP :
  v  Faktor Langsung 
         1.       Biaya Produksi
         2.      Harga

  v  Faktor Tidak Langsung
         1.       Jumlah Produksi : Jumlah produksi akan mempengaruhi biaya variable
Kegunaan Analisis Break Even Point


Analisis Break Even Point dapat digunakan untuk membantu menetapkan sasaran atau tujuan perusahaan. Adapun kegunaan yang lain adalah :


• Menentukan jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Jumlah penjualan minimum ini berarti juga jumlah produksi minimum yang harus dibuat.


• Menentukan jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh laba yang telah direncanakan. Berarti, tingkat produksi harus ditetapkan untuk memperoleh laba tersebut.

• Mengukur dan menjaga agar penjualan tidak kurang dari titik impas atau Break Even Point, tingkat produksi tidak dibawah titk impas.

• Menganalisis perubahan harga jual, harga pokok dan besarnya hasil penjualan pada tingkat produksi tertentu.


• Memudahkan perusahaan dalam pemberian data pada pihak luar perusahaan ( eksternal ) mengenai biaya, volume produksi, harga jual dan tingkat penjualan.

• Sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk memproduksi produk baru yang kiranya mampu menghasilkan laba besar.

Jadi, Analisa Break Even Point ini memberikan beberapa kegiatan secara langsung bagi perusahaan dalam operasinya, yaitu :

• Dasar dalam perencanaan pengembangan perusahaan
• Alat pengendalian budget
• Alat perencanaan laba

Jenis Biaya Berdasarkan Break Even (Titik Impas)

Biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dibedakan sebagai berikut:

1. Variabel Cost (biaya Variabel)
Variabel cost  merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai dengan
perubahan volume penjualan, dimana  perubahannya tercermin dalam biaya
variabel total. Dalam pengertian ini biaya variabel dapat dihitung berdasarkan
persentase tertentu dari penjualan, atau variabel cost per unit dikalikan dengan
penjualan dalam unit.

2. Fixed Cost (biaya tetap)
Fixed cost  merupakan jenis biaya yang selalu  tetap dan tidak terpengaruh oleh
volume penjualan melainkan dihubungkan dengan waktu(function of time)
sehingga jenis biaya ini akan konstan selama periode tertentu. Contoh biaya sewa,
depresiasi, bunga. Berproduksi atau tidaknya perusahaan biaya ini tetap
dikeluarkan.

3. Semi Varibel Cost
Semi  variabel cost  merupakan jenis biaya yang sebagian variabel dan sebagian
tetap, yang kadang-kadang disebut dengan semi fixed cost. Biaya yang tergolong
jenis ini misalnya:  Sales expense atau komisi bagi salesman dimana komisi bagi
Laboratorium Pengembangan Akuntansi                         43 salesman ini tetap unutk range atau volume tertentu, dan naik pada level yang
lebih tinggi.

4. Menentukan Break Even Point (BEP) / Titik Impas

• Mathematical Approach
BEP dapat ditentukan atau dihitung berdasarkan formula tertentu, yaitu:
       
BEP = Fixed Cost / (harga perunit – varibel cost perunit) (rumus 1)
    
                              Fixed Cost 
BEP =                                                          = Rp.........(rumus 2)
                              Sales price/unit
 

  1 -         variabel cost/unit 
Rumus Analisis Break Even :
BEP = Total Fixed Cost / (Harga perunit - Variabel Cost Perunit)
Keterangan :
- Fixed cost : biaya tetap yang nilainya cenderung stabil tanpa dipengaruhi unit yang diproduksi.
- Variable cost : biaya variabel yang besar nilainya tergantung pada benyak sedikit jumlah barang yng diproduksi.
Contoh 1 :
Misalnya ada perusahaan konveksi kaos kaki murah yang harga satu buah kaos kaki adalah Rp. 10.000 dengan biaya variabel sebesar Rp. 5.000 per kaos kaki dan biaya tatap sebesar Rp. 10.000.000
BEP = 10.000.000 / (10.000 - 5.000)
BEP = 20.000
Jadi diperlukan memproduksi 20.000 kaos kaki untuk mendapatkan kondisi seimbang antara biaya dengan keuntungan alias profit nol.
Contoh 2 :
Pada Kasus CV. Donut Kotak
Harga Jual per unit Rp. 5.000
Biaya variabel Per Unit Rp. 3.000
Margin kontribusi Rp. 2.000
BEP(unit) = (Biaya tetap Total : Margin kontribusi per unit)
BEP(unit) = 7.500.000/2.000 = 3.750 unit
_ BEP (rupiah)
Terlebih dahulu harus dihitung Rasio Margin Kontribusi
_ Harga penjualan per unit Rp. 5.000,- 100 %
_ Biaya Variabel per unit Rp. 3.000,- 60 %
_ Margin kontribusi Rp. 2.000,- 40 %
Ratio margin kontribusi = 0,40
BEP (rupiah)= (Biaya tetap Total : Rasio Margin kontribusi)
= Rp. 7.500.000/0,40
= Rp. 18.750.000,-
 



 Margin of Safety
Margin of Safety adalah batas keamanan yang menyatakan sampai seberapa jauh volume pejualan yang dianggarkan boleh turun agar perusahaan tidak menderita rugi atau dengan kata lain, batas maksimum penurunan volume penjualan yang dianggarkan, yang tidak mengakibatkan kerugian.
Margin of safety dalam hubungannya dengan analisis break  even yaitu untuk
menentukan seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita
kerugian. Formulasinya adalah sebagai berikut:

M/S = (Budget sales – BEP)/ Budget sales

Budget Sales adalah jumlah penjualan yang telah ditargetkan.
Mencari Margin of Safety :
Sales budget/rencana penjualan = 50.000.000
Penjualan per BEP = 37.500.000
= 133,33%
Hal ini berarti bahwa tingkat penjualan perusahaan tersebut tidak boleh turun lebih dari 133,33% dari penjualan break even point.
33,33% x Rp 37.500.000 = Rp. 12.500.000,-
Realisasi penjualan tidak boleh turun lebih dari Rp. 12.500.000,- dari penjualan yang direncanakan.
Atau bisa juga dihitung :

(sales budget – sales BE)/sales budget
(Rp. 50.000.000 – Rp. 37.500.000)/Rp.50.000.000 = 25%
Artinya penjualan tidak boleh turun lebih dari 25% penjualan yang direncanakan.
25% x Rp. 50.000.000 = Rp. 12.500.000,-
Realisasi penjualan tidak boleh turun lebih dari Rp. 12.500.000,- dari penjualan yang direncanakan.

Degree of Leverage

Jenis rasio leverage meringkas efeknya jumlah tertentu leverage operasi memiliki pada pendapatan perusahaan sebelum bunga dan pajak (EBIT). Operasi memanfaatkan, melibatkan dan menggunakan sebagian besar biaya tetap untuk biaya variabel dalam operasi perusahaan. Semakin tinggi tingkat leverage operasi, angka itu lebih baik tidak stabil EBIT akan relatif terhadap perubahan diberikan dalam penjualan, semua hal lain tetap sama. Rumusnya adalah sebagai berikut :

DOL =    % perubahan EBIT
               % perubahan penjualan

Rasio ini berguna karena membantu pengguna dalam menentukan efek yangtingkat tertentu memiliki operating leverage pada potensi pendapatan perusahaan.Rasio ini juga dapat digunakan untuk membantu perusahaan menentukan tingkat yang paling tepat leverage operasi dalam rangka memaksimalkan EBITperusahaan. 



Tingkat Degree Of Leverage  



Perusahaan yang memiliki derajat yang lebih besar memiliki tingkat leverage yang lebih besar dari biaya tetap dan dengan demikian, mereka cenderung memiliki lebih besar impas poin dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki leverage. Keuntungan memiliki derajat yang lebih besar dari leverage adalah bahwa volume penjualan suatu perusahaan meningkat melampaui titik impas, marjin yang meningkat. Kerugian dari memiliki derajat yang lebih besar dari leverage karena titik impas yang lebih tinggi, yang berarti bahwa perusahaan yang dibutuhkan untuk mencapai volume penjualan yang lebih tinggi untuk mencapai titik impas.  Pada kondisi baikketika penjualan tinggi, lebih tinggi leverage yang memungkinkan perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan. Pada zaman buruk ketika penjualan tidak baik, perusahaandapat meminimalkan kerugian dengan memiliki tingkat lebih rendah dari leverage.



Masalah Finansial Leverage


Masalah financial leverage baru timbul setelah perusahaan menggunakan dana dengan beban tetap, seperti halnya masalah operating leverage baru timbul setelah perusahaan dalam operasinya mempunyai biaya tetap. Perusahaan yang menggunakan dana dengan beban tetap dikatakan menghasilkan leverage yang menguntungkan (favorable financial leverage).   


 Rasio Leverage

Rasio Leverage ada 2 macam :

1.     Rasio utang terhadap ekuitas

Untuk menilai sejauh mana perusahaan menggunakan uang yang dipinjam,  kita dapat menggunakan beberapa rasio utang (debit ratio) yang berbeda. Rasio utang terhadap ekuitas dapat dihitung dengan membagi total hutang perusahaan (termasuk kewajiban jangka pendek) dengan ekuitas pemegang saham.

Rumus : Rasio uhtang terhadap ekuitas = total hutang / ekuitas pemegang saham

2.    Rasio hutang terhadap total aktiva

Rasio hutang terhadap total aktiva di dapat dari membagi total hutang dalam perusahaan dengan total aktinya.

Rumus : Rasio hutang terhadap total aktiva = total hutang / total aktiva

Contoh soal :

Diketahui 
Mesin A                              Mesin B
               Penjualan                            2.500.000                         2.500.000
Biaya variabel                      2.500.000                         2.500.000
Kontribuasi Margin           2.000.000                        1.500.000
Biaya Tetap                            500.000                         1.000.000
EBIT                                        100.000                            500.000

1.       Berapakah Degree Of Operating Leverage (DOL)
Jawab :

DOL =  S – BV       = Qx(P – V)    
           S – BV – T      Qx(P – V)-BT  

Dimana :
Q : jumlah unit produk  
P  : harga jual per unit
V  : biaya variabel per unit
T   : biaya tetap

                              Pemecahan :
DOL =  S – BV       = Qx(P – V)    
           S – BV – T      Qx(P – V)-BT  
DOL =     500 x (5000-3000)                                       = 2
50005000-3000) – 500.000

2.      Berapakah Degree of Financial Leverage (DFL) Cv. Sekar Adina untuk mesin A, bila diketahui mesin A menanggung biaya bunga sebesar Rp. 100.000 dan bebas pajak 40% ?




Jawab : 
Degree of Financial Leverage (DFL)
DFL =   EBIT         = Qx(P – V)-BT
               EBIT-1         Qx(P – V)-BT-I
Dimana : Q = jumlah unit produk
                P  = harga jual per unit
               V = biaya variabel per unit
               T = biaya tetap
               I = biaya bunga


Mesin A
Penjualan                            2.500.000
Biaya variabel                      1.500.000
Kontribusi margin            1.000.000
Biaya tetap                             500.000
EBIT                                        500.000
Biaya bunga                           300.000
Pajak 40%                                80.000
EAT                                        120.000

Pemecahan :
DFL =   EBIT         = Qx(P – V)-BT
               EBIT-1         Qx(P – V)-BT-I
DFL =            500.000            = 2,5
               500.000-300.000

KESIMPULAN
Break Even point atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan / profit.
Rumus Analisis Break Even :
BEP = Total Fixed Cost / (Harga perunit – Variabel Cost Perunit)
Keterangan :
– Fixed cost : biaya tetap yang nilainya cenderung stabil tanpa dipengaruhi unit yang diproduksi.
– Variable cost : biaya variabel yang besar nilainya tergantung pada benyak sedikit jumlah barang yng diproduksi.
Analisis BEP bertujuan menemukan satu titik baik dalam unit maupun rupiah yang menunjukan biaya sama dengan pendapatan.

No GALAU Biar GAUL..! Nih Rumusnya...!!

"Tanpamu aku galau!” gitu deh kira-kira salah satu bunyi iklan operator selular.

Iklan tersebut kemudian diikuti oleh operator lain, kemudian sekarang jadi tren yang sering kita dengar. Pokoknya kalau udah cemas bakal nemu kondisi yang nggak sesuai dengan harapan… jadi galau deh!

Btw, sebenarnya galau itu apaan sih, Sob? Kalau ngulik kamus bahasa Indonesia sih katanya arti galau itu kacau nggak karuan, Sob.

Wow...sudah sedemikian kacau nggak karuan kah apa yang Sobat hadapi, sampai terucap “aku galau”? Udah gitu, pernah nggak, setelah mengucapkan kata galau tersebut, apa yang kita rasakan justru semakin nggak enak, semakin bete, dan semakin nggak karuan? Nah, itulah yang disebut sebagai sugesti. Coz, emang, kita adalah apa yang kita pikirkan, Sob.

Artinya gini, kalau kita pikirkan diri kita memang dalam keadaan buruk maka keadaan itulah yang akan kita hadapi. Kemudian, tak jarang, kita membuat keadaan yang sebelumnya nggak buruk-buruk amat, jadi buruk beneran. Contoh, karena handphone kamu nggak ada di tas, maka kamu jadi berkata sama teman, “Haduh, galau banget deh, hp-ku nggak ada.”


Seharian kamu jadi sibuk nyari-nyari hp, ketakutan sendiri karena khawatir hp kamu hilang dicuri orang, sampai-sampai apa yang sudah dipersiapkan untuk ulangan hari ini jadi lupa semua. Padahal, setelah keadaan lebih tenang, dalam perjalanan pulang sekolah, kamu baru ingat kalau ternyata hp kamu masih di-charge dibawah meja belajar. Karena kamu berangkat terburu-buru, lupa deh nggak kebawa.

So, itulah yang dinamakan dengan kekuatan pikiran. Kalau kita tersugesti oleh satu pikiran, maka apapun yang kita kerjakan akan membawa kita mendekati keadaan yang kita pikirkan tersebut. Karena itu, sebaiknya pertimbangkan kembali kata “galau” ini untuk jadi kata-kata “yang kamu banget”.

Lebih jauh, kita seringkali menggunakan kata galau untuk menggambarkan situasi yang menggelisahkan. Situasi yang sama sekali nggak kamu harapkan. Cemas, benar nggak sih seperti itu kejadiannya, gimana ya kalau nanti bakal seperti itu, nanti seperti apa ya... dan sebagainya.

Padahal gini lho Sob, Allah SWT yang paling sayang sama kita itu mengingatkan dalam surat yang pasti kita hapal banget, “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Robb-nya manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan setan yang tersembunyi, yang membisikkan kedalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.’” (Qs. An-Nas:1-6)

Artinya, setan itu memang hobi banget membisikkan dalam dada kita keburukan, kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, dan... kegalauan.

Padahal, sebenarnya belum tentu seperti itu keadaannya dan belum tentu seperti itu jadinya. Karena itu, Allah SWT memanggil kita untuk berlindung pada-Nya saja. Berlindung dari segala keburukan yang telah atau akan menimpa.

Rumusnya gini Sobat, apa yang terjadi kemarin telah berlalu dan apa yang terjadi esok hari, hanya Allah Yang Mahatahu. Yang kita jalani dan harus kita upayakan sebaik-baiknya adalah hari ini. Bila kita melakukan kesalahan di hari kemarin, maka hari ini adalah sebaik-baiknya waktu untuk mengambil pelajaran dan memperbaiki kesalahan agar hari ini lebih baik dari kemarin. Hari ini juga adalah sebaik-baiknya waktu untuk mempersiapkan esok hari agar Allah SWT ridha memberikan yang terbaik esok. Seperti apa yang terbaik tersebut, terserah Allah aja. Yang penting kita udah usaha maksimal.

Jadi, nggak usah galau ‘kan? 

Selasa, 13 Maret 2012

ANALISIS SUMBER DAN PENGGUNAAN MODAL KERJA

PENGERTIAN

        Laporan keuangan umumnya terdiri dari laporan neraca, rugi-laba dan laporan laba ditahan. Tetapi ada pula yang menambah dengan laporan lain misalnya laporan sumber dan penggunaan dana.
        Dana (Fund) diartikan dalam bentuk Kas dan modal kerja.
        Dengan analisis sumber dan penggunaan dana perusahaan akan mengetahui bagaimana mengelola atau menggunakan dananya.
        Laporan sumber dan penggunaan modal kerja menggambarkan suatu ringkasan sumber dan penggunaan modal kerja dan perubahan unsur-unsur perubahan modal kerja selama periode yang bersangkutan.
        Laporan sumber dan penggunaan kas menggambarkan suatu ringkasan sumber dan penggunaan kas selama periode yang brsangkutan
Modal kerja
        Modal kerja (working capital) adalah modal yang dibutuhkan perusahaan untuk menjalankan operasi perusahaan sehari-hari.
        Ada 3 konsep /definisi modal kerja : 
           1.  Konsep kwantitatif
    -         Konsep ini menitik beratkan pada jumlah yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan perusahaan dalam membiayai operasinya yang bersifat rutin.
    -         Dalam konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jmlah aktiva lancar (gross working  capital)
     -         Total modal kerja=total aktiva lancar 
     2. Konsep kwalitatif
¨      Konssep ini menitik beratkan pada kwalitas modal kerja. Dalam konsep ini pengertian modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang jangka pendek.
¨      Definisi ini menunjukan margin of protection atau tingkat keamanan dari kreditur jangka pendek serta menjamin kelangsungan operasi perusahaan di masa datang.
¨      Modal kerja= total AL – total HL 
3. Konsep fungsional 
Ø  Konsep ini menitik beratkan pada fungsi dari dana yang dimiliki dalam rangka menghasilkan pendapatan (laba) dari usaha pokok perusahaan.
Ø  Semua dana yang dimiliki perusahaan pada dasarnya digunakan untuk menghasilka pendapatan tetapi tidak semuanya dana itu menghasilkan laba periode ini (current income)
Macam-macam Modal Kerja
Modal kerja dalam suatu perusahaan dapat digolongkan menurut Bambang Riyanto, dalam bukunya Dasar-dasar pembelanjaan perusahaan tahun 2001 sebagai berikut :


a.    Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital)

Yaitu modal kerja yang harus selalu ada pada perusahaan atau dengan kata lain jumlah modal kerja itu harus tetap ada agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan modal kerja tersebut secara terus menerus selalu diperlukan untuk kelancaran usaha dalam suatu periode akuntansi.

Modal Kerja Permanen terbagi menjadi 2, yaitu:

1) Modal Kerja Primer (Primary Working Capital)
Yaitu sejumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kelangsungan kegiatan usahanya.

2) Modal Kerja Normal (Normal Working Capital)
Yaitu sejumlah modal kerja yang digunakan untuk dapat menyelenggarakan luas produksi yang normal. Normal disini mempunyai pengertian yang fleksibel menurut kondisi perusahaannya. Apabila suatu perusahaan misalnya selama 4 atau 5 bulan rata-rata per bulannya mempunyai produksi 1000 unit. Apabila kemudian ternyata 4 atau 5 bulan berikutnya luas produksi rata-rata per bulannya 2000 unit, maka luas produksi normalnya disinipun berubah menjadi 2000 unit.

b.     Modal Kerja Variabel (Variable Working Capital)
Yaitu modal kerja yang berubah-ubah sesuai dengan perolehan keadaan dalam suatu periode. Modal Kerja ini dibagi menjadi 3 yaitu:

1.     Modal Kerja Musiman (Seasonal Working Capital)
Modal kerja yang besarnya berubah-ubah disebabkan musim.

2.    Modal Kerja Siklus (Cylical Working Capital)
Yaitu sejumlah modal kerja yang besarnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi kontinyunitas produk.

3.     Modal Kerja Darurta (Emergency Working Capital)
Yaitu modal kerja yang besarnya brubah-ubah dan penyebabnya tidak diketahui sebelumnya (misalnya kebakaran, banjir, gempa bumi, buruh mogok, huru-hara dan sebagainya) 


   Pentingnya modal keja

    1. Memungkinkan perusahaan dapat beroperasi dengan efisien 
    2. Memungkinkan perusahaan memberikan syarat kredit ke langganan 
    3. Memungkinkan perusahaan mempunyai persediaan dalam jumlah yang cukup 
    4. Memungkinkan perusahaan dapat memenuhi kewajibanya tepat waktu 
    5. Melindungi perusahaan dari krisis modal kerja

Faktor yang mempengaruhi besar kecilnya modal kerja
  1. Sifat atau type perusahaan
  2. Waktu proses produksi
  3. Waktu perolehan bahan
  4. Syarat pembelian bahan
  5. Syarat penjualan barang
  6. Tingkat perputaran persediaan.

Sumber modal kerja
        Pada umumnya sumber modal kerja suatu perusahaan dapat berasal dari :
  1. Hasil operasi perusahaan
  2. Keuntungan penjualan surat berharga
  3. Penjualan aktiva tidak lancar
  4. Penjualan saham atau obligasi
  5. Adanya kenaikan sektor modal dan hutang
  6. Adanya penurunan sektor aktiva tetap

Penggunaan modal kerja
Penggunaan aktiva lancar mengakibatkan turunnya  modal kerja. 
1. Pembayaran biaya operasi perusahaan. 
2. Kerugian yang diderita perushaan. 
3. Adanya penambahan, pembelian aktiva tetap. 
4. Pembayaran hutang jangka panjang
5. Penganbilan oleh pemilik (prive) 
6. Adanya pembentukan dana untuk tujuan khusus

Laporan sumber dan penggunaan modal kerja
  Laporan ini akan memberikan jawaban atas pertanyaan sbb :
  1. Apa yang menyebabkan perubahan posisis modal kerja.
  2. Berapa modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan dan bagaimana komposisinya.
  3. Berapa dana atau modal kerja yang berasal dari penjualan saham dan hutang jk panjang

PT INDRA
Neraca 














PT Indra
Laporan Perubahan Modal Kerja